Jumat, 04 Januari 2013

sosiologi antropologi


PENGANGGURAN TERDIDIK SEBAGAI POTRET BURAM PENDIDIKAN
I.              Pendahuluan
Fenonema yang sangat mengherankan dalam pendidikan, Banyak kaum sarjana, intelektual ataupun akademisi yang seorang pengangguran. Bukankah mereka adalah tenaga-tenaga profesional yang sedikit banyak mempunyai bekal pengetahuan, skill dan pengalaman yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak mengenyam dunia pendidikan.
Memang kuliah atau belajar di perguruan tinggi bukanlah semata-mata untuk mencari kerja. Ada yang lebih penting dari sekedar kerja atau uang yaitu ilmu pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan ini merupakan perangkat (shoftware) kemanusiaan yang bisa mengantarkan seseorang kepada “kesempurnaan.”
Tingginya angka penangguran di kalangan terdidik itu, karena rendahnya keterampilan di luar kompetensi utama sebagai sarjana. Padahal, untuk menjadi lulusan yang siap kerja, keterampilan di luar bidang akademik, terutama yang berhubungan dengan entrepreneurship (kewirausahawan) sangat dibutuhkan.
Harapan pemerintah untuk para sarjana tentu tinggi yaitu bagaimana sarjana tersebut mampu mengelola sumber daya alam yang sangat melimpah dan mampu membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan. Persoalannya adalah bagaimana sarjana yang nganggur tersebut lebih kreatif, mempunyai inovasi, berjiwa entreupeneur dan satu lagi jiwa mengabdi kepada negara.

II.           Rumusan Masalah
A.    Faktor penyebab meningkatnya pengangguran terdidik
B.     Solusi dalam mengatasi pengangguran Terdidik

III.        Pembahasan
A.    Faktor Penyebab meningkatnya pengangguran terdidik
Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya pengangguran terdidik adalah sebagai berikut:
1.      Ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidakcocokan ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus.
2.      Semakin terdidik seseorang, semakin besar harapannya pada jenis pekerjaan yang aman. Golongan ini menilai tinggi pekerjaan yang stabil daripada pekerjaan yang beresiko tinggi sehingga lebih suka bekerja pada perusahaan yang lebih besar daripada membuka usaha sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil studi Clignet (1980), yang menemukan gejala meningkatnya pengangguran terdidik di Indonesia, antara lain disebabkan adanya keinginan memilih pekerjaan yang aman dari resiko. Dengan demikian angkatan kerja terdidik lebih suka memilih menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
3.      Terbatasnya daya serap tenaga kerja di sektor formal (tenaga kerja terdidik yang jumlahnya cukup besar memberi tekanan yang kuat terhadap kesempatan kerja di sektor formal yang jumlahnya relatif kecil).
4.      Belum efisiennya fungsi pasar kerja. Di samping faktor kesulitan memperoleh lapangan kerja, arus informasi tenaga kerja yang tidak sempurna dan tidak lancar menyebabkan banyak angkatan kerja bekerja di luar bidangnya. Kemudian faktor gengsi juga menyebabkan lulusan akademi atau universitas memilih menganggur karena tidak sesuai dengan bidangnya.
5.      Budaya malas juga sebagai salah satu factor penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Selain yang ada di atas, kebiasaan masyarakat Indonesia yang mempunyai etos kerja rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kemajuan ekonomi bangsa Indonesia yang lebih rendah.
Rendahnya etos kerja itu juga dipengaruhi oleh tegas atau tidaknya suatu masyarakat dalam membedakan antara konsep waktu yang ditentukan oleh gejala alam dengan waktu yang ditentukan oleh ukuran jam. Dalam masyarakat Indonesia pengguanaan waktu menurut ukuran jam masih merupakan sesuatu yang langka. Umumnya masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan waktu yang bersifat relatife. Seperti, nanti, sebentar, besok, dll.[1] Hal ini juga membawa pada etos kerja kita.

C.     Solusi dalam mengatasi pengangguran Terdidik
1.      Menumbuhkan Semangat Entrepreneurship
Pengertian entrepreneurship, kata entrepreneur berasal dari kata dalam bahasa Prancis yang diadopsi dari dua kata dalam bahasa Latin, yaitu entre dan prende, entre artinya “di antara” dan pendre yang artinya “mengambil”.  Entreprende berarti seseorang yang mengambil (peluang) di antara (kondisi yang ada). Dalam bahasa Indonesia kata yang mendekati entrepreneurship adalah “kewirausahaan”. Jadi  Entrepreneurship adalah segala macam cara yang dilakukan oleh manusia untuk mengelola usaha, dengan mengubah hal yang biasa menjadi hal yang menguntungkan.[2]
Kewirausahaan (entrepreneurship) bukan merupakan ilmu ajaib yang mendatangkan uang dalam waktu sekejap, melainkan sebuah ilmu, seni, dan ketrampilan untuk mengelola semua keterbatasan sumber daya, informasi, dan dana yang ada guna mempertahankan hidup, mencari nafkah, atau meraih posisi puncak dalam karir.[3]
Banyak pebisnis muda yang sukses. Namun, tidak bisa dipungkiri ada banyak pula pebisnis muda yang mengalami stagnasi (bisnis tak berkembang). Oleh karena hal itu mereka menutup usahanya atau berpindah ke bisnis lain, kemudian berpindah lagi. Demikian seterusnya dan pada akhirnya bisnis itu pun tutup juga. Hal inilah yang membuat orang takut menjadi pengusaha dan berfikir salah/keliru tentang tentang kewirausahaan.
Sejak dini, cara berfikir orang muda perlu dibuka untuk mengetahui manfaat penting menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Jangan sampai ketekunan belajar di sekolah atau perguruan tinggi hanya mengarahkan pada satu target, yaitu mencari kerja saja dan titik! Karena begitu sulit mendapatkan pekerjaan akhirnya ‘dipaksa’ menjadi wirausahawan.
Hal ini yang menyebabkan entrepreneurship di Indonesia nyaris tidak berkembang. Kenyataan ini didukung pula oleh lwmbaga-lembaga pendidikan strata universitas top Indonesia yang jarang menerapkan kurikulum berbasis entrepreneurship. Belum ada konsep yang jelas karena mereka hanya mencomot sana-sini ilmu yang ada, bukan based on practices, yaitu: think like a strategic thinker and act like manager.[4]
Dengan pola pikir yang benar tentang entrepreneurship akan memberikan kesuksesan dalam berbisnis, hal ini menjadi tugas lembaga pendidikan untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang entrepreneurship. Sehingga mencetak lulusan yang siap untuk terjuan dalam dunia kerja. 
Sebagai insan akademik kita diharapkan mampu membaca peluang yang ada di sekitar kita dengan aktif mencari informasi-informasi, jika peluang itu tidak ada maka kita diharapkan mampu menciptakan peluang sendiri, salah satunya dengan belajar mengasah skill kewirausahaan, dan life skill lainnya yang dapat dijadikan bekal menjalani hidup di masyarakat.

2.      Pendidikan yang Berorientasi Kemandirian
Secara umum kemandirian berasal dari kata mandiri yang mendapat tambahan ke-an yang berarti “diperintah oleh dirinya sendiri”. Kemandirian merupakan sifat dari perilaku mandiri yang merupakan salah satu unsur sikap. Jadi kemandirian adalah bentuk sikap individu yang tidak terpengaruh terhadap orang lain.[5]
Dari pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat kemandirian ialah kemampuan peserta didik membuat keputusan bagi dirinya sendiri, namun bukan berarti sama dengan kebebasan mutlak melainkan tetap memperhitungkan semua faktor yang yang relevan dalam menentukan arah tindakan yang diambil, sebagai tindakan yang terbaik bagi semua yang berkepentingan.
Manusia yang dicita-citakan oleh pendidikan adalah manusia yang dapat berdiri sendiri. Implikasi yang segera timbul adalah bahwa manusia yang di cita-citakan harus memiliki skill dan keahlian tertentu.[6]  
Adapun ciri-ciri kemandirian diantaranya:
1.      Mengeathui secara tepat cita-cita yang hendak dicapai
2.      Percaya diri dan dapat di percaya dan percaya kepada orang lain
3.      Mengetahui bahwa sukses adalah kesempatan bukan hadiah
4.      Membekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang berguna
5.      Mensyukuri nikmat Allah[7]

3.      Memajukan Masyrakat melalui PLS
Sejatinya penyelenggaraan Gelar Karya PLS (pendidikan luar sekolah) ini bukan hanya sekedar seremonial belaka. Namun ia merupakan upaya untuk membangkitkan semangat dan memperkuat komitmen bersama (pemerintah dan masyarakat) unutk mengembangkan dan melembagakan program PLS. PLS sesungguhnya memegang pranan penting dan strategis dalam memperluas pelayanan pendidikan bagi masyarakat yang diarahkan untuk menanggulangi pengangguran dan mengentaskan masyarakat dari jeratan mata rantai kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan. Ciri khas PLS yang fleksibel adalah mampu mengadaptasi secara cepat program-program kependidikan yang dimiliki dengan kebutuhan masyrakat dan pasar kerja. PLS adalah program kependidikan yang berada dari, oleh dan untuk masyarakat, yang akrab dengan kebutuhan masyarakat secara luas dan global.[8]
Dari keterangan di atas bahwa beberapa program PLS merupakan salah satu jalan untuk mengatasi masalah pengangguran, maka program PLS tersebut jika dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan perguruan tinggi dan dijadikan sebagai mata kuliah yang harus diambil oleh setiap mahasiswa sebelum lulus, maka hal ini bisa menjadi satu solusi yang dapat mengurangi pengangguran terdidik, sebab jika kita melihat pendidikan perguruan tinggi kita ini memang belum ada program PLS tersebut. dengan dimasukannya program PLS tersebut diharapakan mahasiswa memiliki skill tambahan yang orientasinya memang langsung ke lapangan pekerjaan, sehingga ketika mahasiswa lulus dari kuliah dan tidak langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya, maka skill tambahan tersebut dapat dijadikan untuk membuka usaha sendiri sebelum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya.  

D.           Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa beberapa factor adanya pengangguran terdidik. Ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidakcocokan ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus. Semakin terdidik seseorang, semakin besar harapannya pada jenis pekerjaan yang aman dan keinginan memilih pekerjaan yang aman dari resiko. Dengan demikian angkatan kerja terdidik lebih suka memilih menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Terbatasnya daya serap tenaga kerja di sektor formal, belum efisiennya fungsi pasar kerja. Budaya malas juga sebagai salah satu factor penyebab tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia dan etos kerja yang rendah. Untuk mengurangi masalah pengangguran terdidik ada beberapa tawaran diantaranya yaitu,  menumbuhkan semangat jiwa entrepreneurship, meningkatkan etos kerja, pendidikan yang berorientasi kemandirian, dan melalui PLS.

E.            Penutup
Demikian makalah ini kami buat, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita.

DAFTAR PUSTAKA
Sairin, Sjafri. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.
Lensufiie, Tikno Leadership Untuk Profesional dan Mahasiswa. Jakarta. Erlangga Group. 2010.
Hendro. Dasar-Dasar Kewirausahaan. Jakarta: Erlangga. 2011.
Thoha, Chabib. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1996.
Amnur, Ali Muhdi. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Pustaka Fahima. 2007.
Nawawi, Hadari. Pendidikan Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas. 1993.
Fajar,  A. Malik. Holistik Pemikiran Pendidika. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2005.




[1] Sjafri Sairin, Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 327-328
[2] Tikno Lensufiie, Leadership Untuk Profesional dan Mahasiswa, (Jakarta, Erlangga Group,2010), hlm. 224
[3] Hendro, Dasar-Dasar Kewirausahaan, (Jakarta: Erlangga, 2011), hlm. 6
[4] Hendro, Dasar-Dasar Kewirausahaan, hlm. 9
[5] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1996), hlm. 121
[6] Ali Muhdi Amnur, Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, (Yoyaakarta: Pustaka Fahima, 2007), hlm. 60
[7] Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), hlm. 340
[8] A. Malik Fajar, Holistik Pemikiran Pendidika, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 305-306

Kamis, 03 Januari 2013

Proposal PTK


PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

Judul               : UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR
PADA PEMBELAJARAN  PAI MATERI POKOK IMAN KEPADA MALAIKAT MELALUI METODE SMALL GROUP DISCUSSION SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 SEMARANG SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN
2012-2013.
Penulis             : Lilik Nor Ismah
NIM                : 093111062
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

A.    Latar Belakang Masalah
Menurut E. Mulyasa, pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.[1]
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Dikatakan edukatif karena terjadi interaksi antara guru dengan siswa yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.
Agar interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dapat berjalan dengan aktif dan tidak membosankan, maka guru harus pandai-pandai membuat metode agar siswa aktif dalam pembelajaran.
Small group discussion merupakan salah satu metode untuk dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Pentingnya penggunaan metode yang aktif tersebut diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa sehingga dapat mencapai prestasi belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak  materi pokok Iman Kepada malaikat yang mencapai ketuntasan.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan penggunaan metode yang baik dalam pembelajaran. Terdapat pada Q.S. An Nahl ayat 125:
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[2]

Hasil wawancara bapak Qomar, guru PAI kelas X SMA negeri 1 Semarang bahwa semangat belajar PAI siswa sangat rendah, banyak siswa yang menganggap bahwa pelajaran PAI sangat membosankan dan tidak termasuk pelajaran yang menentukan saat ujan akhir sekolah sehingga membuat peserta didik menjadi mengabaikan pelajaran tersebut.
Salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik tidak semangat dalam pembelajaran PAI adalah kurangnya pemahaman siswa tentang pendidikan agama. Sebagian besar siswa lulusan dari SMP dan kurangnya pendidikan agama dari keluarga.
Dari pengalaman di atas, muncul gagasan peneliti untuk memberikan solusi bagaimana cara meningkatkan peran siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas bisa menjadi aktif, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Pada Pembelajaran  PAI Materi Pokok Iman Kepada Malaikat Melalui Metode Small Group Discussion Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012-2013.”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah: apakah dengan metode small group discussion dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI materi pokok Iman kepada Malaikat siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun ajaran 2012/2013.

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran  PAI materi pokok Iman kepada Malaikat melalui metode Small Group Discussion pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012-2013.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa:
a.       Memudahkan siswa dalam memahami mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
b.      Memberikan suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa tertarik dan antusias dalam mengikuti pelajaran
c.       Melatih siswa untuk belajar aktif dengan menumbuhkan daya kreatif siswa.
2.      Bagi guru:
a.       Memotivasi guru untuk lebih meningkatkan kinerja dan meningkatkan keprofesionalismeannya dalam kegiatan belajar mengajar.
b.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu metode pembelajaran dalam usaha meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya pada materi Iman kepada Malaikat.
3.      Bagi sekolah:
a.       Diperoleh panduan inovatif strategi pembelajaran dengan metode Small Group Discussion yang dapat dipakai untuk kelas-kelas lainnya.
b.      Dapat memberikan sumbangan bagi sekolah dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas sekolah.

E.     Kajian Teori
1.      Keaktifan Belajar
a)      Pengertian meningkatkan keaktifan
Aktif berarti bahwa dalam proses pembelajaran guru menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya dan dapat mempertanyakan gagasannya. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about and thingking aloud).[3] Dalam pembelajaran aktif, yang dimaksud aktif adalah pembelajaran yang banyak melibatkan peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam pembelajaran di kelas.[4]
Yang dimaksud meningkatkan dalam penelitian ini adalah upaya untuk meningkatkan keaktifan, jadi meningkatkan berarti berusaha atau berupaya untuk menjadi meningkat.
Untuk mengukur keaktifan siswa ini dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain :
1) Perhatian siswa terhadap penjelasan guru
2) Kerjasamanya dalam kelompok
3) Kemampuan siswa mengungkapkan pendapat dalam kelompok
4) Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok
5) Mendengarkan lebih baik ketikan teman berpendapat
6) Memberi gagasan yang cemerlang
7) Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang
8) Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota yang lain
9) Memanfaatkan potensi anggota kelompok
10) Saling membantu dan menyelesaikan masalah.[5]


b)      Ciri-ciri keaktifan Belajar
Dalam setiap proses belajar, peserta didik selalu menampakkan keaktifan, keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari keadaan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis. Adapun jenis-jenis aktivitas belajar peserta didik, menurut Poul B. Dierich sebagaimana dikutip oleh Oemar Hamalik, menggolongkannya sebagai berikut:
1)      Kegiatan-kegiatan visual, misalnya; membaca, melihat gambar-
gambar, mengamati, eksperimen, demonstrasi, pameran mengamati pekerjaan orang lain atau bermain.
2)      Kegiatan-kegiatan lisan (Oral), misalnya; mengemukakan suatu fakta, atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, bertanya, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskus, dan interupsi.
3)      Kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti; mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan musik, mendengarkan siaran radio.
4)      Kegiatan-kegiatan menulis, seperti; menulis cerita, menulis karangan, menulis laporan, merangkum, mengerjakan tes, mengisi angket.
5)      Kegiatan-kegiatan menggambar, misalnya menggambar, membuat grafik, chart, peta, pola, diagram.
6)      Kegiatan-kegiatan metrik, seperti; melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7)      Kegiatan-kegiatan mental, misalnya merenungkan, mengingatkan, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, mengambil atau membuat keputusan.
8)      Kegiatan-kegiatan emosional, misalnya minat, membedakan merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup dan sebagainya.[6]

c)      Faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa dalam pembelajaran
Menurut Gagne dan Briggs, yang dikutip oleh Martinis, factor-faktor yang dapat menumbuhkan timbulnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran yaitu :
1)      Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2)      Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar pada siswa).
3)      Mengingatkan kompetensi belajar kepada siswa.
4)      Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari).
5)      Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya.
6)      Memunculkan aktifitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
7)      Memberi umpan balik (feed back).
8)      Melakukan tagihan-tagihan terhadap siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur.
9)      Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan di akhir pembelajaran.[7]
Keaktifan siswa alam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, siswa juga dapat berlatih untuk berfikir kritis dan dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dan sumber utamanya kitab suci Al-Qur'an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.[8]
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam arti luas, yaitu ukhuwah fi alubudiyah, ukhuwah fi al-insaniyah, ukhuwah fi al-wathaniyah wa alnasab, dan ukhuwah fi al-din al-Islam.[9]
Dalam  pedoman umum Pendidikan Agama Islam sekolah umum dan sekolah luar biasa, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman dan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih baik.[10]
PAI terdiri dari beberapa aspek, yaitu aspek Qur’an Hadist, aspek Aqidah Akhlak, aspek Fiqih, dan aspek Sejarah Kebudayaan Islam.

3.      Iman Kepada Malaikat
a)      Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
Salah satu Standar Kompetensi (SK) PAI materi pokok Iman kepada Malaikat adalah Meningkatkan keimanan kepada Malaikat.
Kompetensi Dasar (KD) dari SK di atas antara lain:
1.      Tanda beriman kepada malaikat
2.      Contoh berperilaku beriman kepada Malaikat.

b)      Tanda Beriman kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk gaib, yang wujudnya tidak dapat di lihat, didengar, dicium, ataupun diraba. Mereka hidup dalam suatu alam yang berbeda dengan kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini, oleh sebab itu tidak dapat dicapai oleh pandangan kita. Yang mengetahui perihal dan hakikat mereka yang sebenarnya hanyalah Allah SWT. Malaikat disucikan dari dorongan syahwat hewani, terhindar dari keinginan-keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan salah. Mereka tidak seperti manusia yang suka makan, minum, tidur, berjenis lelaki atau wanita.
Tanda-tanda Beriman kepada Malaikat:
1.      Taat kepada Allah dan rasul-Nya
2.      Tidak mempersekutukan Allah
3.      Mematuhi ajaran-ajaran yang disampaikan al-Qur’an
4.      Melaksanakan segala tuntunan syariat Islam

c)      Contoh berperilaku beriman kepada Malaikat
Bentuk prilaku yang mencerminkan keimanan kepada malaikat adalah:
1.      Meningkatnya keimanan dan ketaqwaan.
Seseorang yang memahami tugas-tugas para malaikat, akan semakin yakin betapa Maha Besar dan Maha Kuasa Allah SWT.
2.      Meningkatnya amal saleh
Seseorang yang memahami bahwa setiap amal manusia akan dicatat dan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatannya,  akan senantiasa meningkatkan amal salehnya.
3.      Selalu berhati-hati
Seseorang yang memahami bahwa para malaikat selalu memantau perbuatan manusia, akan selalu berhati-hati sehingga tidak terjebak dalam perbuatan dosa.


4.      Tidak sombong
Seseorang yang memahami bahwa setiap manusia akan mati dan masuk kealam barzah serta akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, tidak akan berbuat sombong.
5.      Tenang dan tentram jiwanya
Seseorang yang memahami bahwa setiap perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Akan menjadi tenang dan tentram jiwanya. Apapun yang terjadi ia akan mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa dalam kehidupannya.[11]

4.      Small Group Discussion
a)      Pengertian metode Small Group Discussion
Secara sederhana pengertian small group discussion penulis uraikan sebagai berikut, small artinya kecil, group artinya kelompok (dynamic group) kelompok dinamik, discussion artinya tukar pendapat untuk memecahkan suatu masalah/ mencari kebenaran.
Small group discussion merupakan bagian dari banyak metode pembelajaran yang memacu keaktifan peserta didik. metode ini selain sebagai metode diskusi juga sebagai metode pemecahan masalah (problem solving). Small group discussion dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi dalam sub masalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya. Dalam small group discussion peserta didik membuat kelompok kecil (5 sampai 6 orang) untuk mendiskusikan bahan yang diberikan oleh guru atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.


b)      Langkah-langkah metode Small Group Discussion
Langkah-langkah merupakan tahapan yang akan dilakukan dalam melaksanakan kegiatan, dalam hal ini adalah langkah-langkah dalam melaksanakan metode small group discussion,yaitu:
1.      Bagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil (maksimal 5 murid) dengan menunjuk ketua dan sekretaris
2.      Berikan soal studi kasus (yang dipersiapkan oleh guru) sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
3.      Instruksikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut
4.      Pastikan setiap kelompok berpartisipasi aktif dalam diskusi
5.      Instruksikan setiap kelompok melalui juru bicara yang ditunjuk menyajikan hasil diskusinya dalam forum kelas
6.      Klarifikasikan, penyimpulan dan tindak lanjut (Guru).[12]

c)      Tujuan Small Group Discussion
Tujuan dari metode small group discussion adalah agar peserta didik memiliki ketrampilan memecahkan masalah terkait materi pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehudupan sehari-hari.[13]
Penerapan metode small group discussion sebagai salah satu strategi pembelajaran, diharapkan siswa belajar bagaimana dia belajar dari orang lain, karena belajar tidak harus dengan guru. Bagaimana menanggapi orang lain, bagaimana memelihara kesatuan kekompakan, dan belajar tentang teknik-teknik pengambilan keputusan yang amat berguna bagi mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

F.     Kajian Pustaka
Kajian pustaka atau tinjauan pustaka merupakan tinjauan terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak diteliti. kajian pustaka berfungsi sebagai perbandingan dan tambahan informasi terhadap penelitian yang hendak dilakukan. Antara lain:
Penelitian oleh Ernaning Marfuatun dengan judul “Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam materi pokok Sifat-Sifat Terpuji kelas VIIC melalui metode Jigsaw Learning di SMP N 2 Warureja Tegal” dengan hasil bahwa Model pembelajaran Jigsaw Learning ini telah berhasil meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam materi pokok sifat-sifat terpuji, seperti perhatian siswa terhadap perhatian guru, kerjasamanya dalam kelompok, kemampuan dalam mengungkapkan pendapat, memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok, mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat, memberi gagasan yang cemerlang.
Penelitian oleh Ainun Najib dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar siswa mata pelajaran Aqidah Akhlak materi pokok Iman kepada Malaikat Allah dan Makhluk Gaib selain Malaikat melalui strategi giving question dan getting answer pada siswa kelas VII A MTs Nurul Ulum Mranggen Demak Tahun ajaran 2010/2011.” Dengan hasil bahwa strategi giving question dan getting answer dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak materi pokok Iman kepada Malaikat Allah dan Makhluk Gaib selain Malaikat pada siswa kelas VII A MTs Nurul Ulum Mranggen Demak Tahun ajaran 2010/2011. Yang dibuktikan dengan hasil belajar yang mencapai ketuntasan mencapai 77,78%.
Dari kajian pustaka yang ada, peneliti lebih menekankan penelitian pada “Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Pembelajaran  PAI Materi Pokok Iman Kepada Malaikat Melalui Metode Small Group Discussion Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012-2013.”


G.    Hipotesis Tindakan
Menurut Suharsimi Arikunto, hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul, atau jawaban dari masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan tinggi keberadaannya.[14]
Adapun hipotesis yang diajukan peneliti dalam penelitian ini adalah: adanya peningkatan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI materi pokok Iman kepada Malaikat dengan menggunakan metode Small Group Discussion pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012/2013.

H.    Metodologi Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas serta profesionalisme guru dalam menangani proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Berdasarkan pemaparan di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah upaya untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI materi pokok Iman kepada Malaikat dengan menggunakan metode Small Group Discussion pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012/2013.
2.      Tempat dan Waktu Penelitian
a.       Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Semarang, dengan pertimbangan bahwa SMA Negeri 1 Semarang merupakan sekolah bertaraf RSBI yang ada di Semarang dan merupakan tempat PPL peneliti. Dengan demikian diharapkan dapat memudahkan dan membantu peneliti dalam melakukan penelitian.

b.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2012/2013, selama satu bulan terhitung
mulai tanggal 4 februari sampai 5 maret 2012.

3.      Kolaborator
Salah satu karakteristik PTK adalah adanya kolaborasi ( kerjasama ) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dan lain-lain) dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan ( action ).[15]
Dalam penelitian ini yang menjadi kolaborator adalah bapak Qomar, S.PdI selaku guru PAI kelas X SMA Negeri 1 Semarang tahun ajaran 2012/2013.

4.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X.5 SMA Negeri 1 Semarang, karena kurangnya keaktifan bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI, dan siswa lebih merendahkan pelajaran PAI daripada kelas X lainnya yang ada di SMA Negeri 1 Semarang.

5.      Prosedur Penelitian
a.       Model penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. [16]
Cara pelaksanaan tindakan kelas dilakukan dengan dua kali siklus, tiap siklus terdiri dari empat prosedur yaitu perencanaan, palaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Model Spiral dari Kemmis dan Taggart.[17]


 













b.      Pra siklus
Tahap pra siklus ini peneliti akan melihat proses pembelajaran PAI secara langsung di kelas X.5 SMA Negeri 1 Semarang, yang masih menggunakan metode ceramah. Sehingga siswa merasa bosan dan tidak mengikuti pembelajaran dengan aktif.
c.       Siklus Kegiatan
Tahapan dalam penelitian ini disusun melalui siklus penelitian. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian dirancang dalam dua siklus yaitu siklus I, dan siklus II. Pelaksanaan tiap siklus akan diambil 1 kelas dengan kolaborator guru pengampu mata pelajaran pendidikan agama Islam yaitu bapak Qomar, S.PdI.
1.      Siklus I
a.       Perencanaan Tindakan
Perencanaan yang dilakukan peneliti dengan mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
1)      Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran PAI materi Iman kepada Malaikat Allah.
2)      Peneliti membuat lembar pengamatan aktifitas siswa.
3)      Peneliti mengidentifikasi kesulitan siswa dengan mencari penyebab dari kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Yaitu melaksanakan pembelajaran berdasar atas apa yang telah direncanakan dalam RPP. Salah satunya, melaksanakan pembelajaran PAI materi Iman kepada Malaikat dengan menggunakan metode small group discussion.
c.       Hasil Pengamatan
Pengamatan terhadap pembelajaran yang berlangsung untuk mengetahui aktifitas siswa dan penyebab kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI.
d.      Refleksi
Hasil pengamatan yang telah didapat pada siklus I dikumpulkan untuk dianalisis dan dievaluasi sebagai dasar untuk membuat perencanaan pembelajaran siklus II.

2.      Siklus II
Merupakan pengulangan kembali dari siklus I: perencanaan, pelaksanaan, hasil pengamatan, refleksi.  


6.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Wawancara
Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keteranga yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka dan serta tujuan yang telah ditentukan.[18] Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pendapat tentang peningkatan keaktifan siswa di kelas. Wawancara ini ditujukan kepada siswa sebagai subyek yang akan diteliti selain itu juga kepada guru Pendidikan Agama Islam sebagai mitra kerja atau kolaborator dalam penelitian ini adalah Qomar, S.PdI selaku guru Pendidikan Agama Islam kelas X SMA Negeri 1 Semarang.
b.      Observasi
Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan atau data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.[19] Pengamatan dilakukan pada tiap siklus untuk mengamati proses penerapan metode small group discussion dan untuk mengamati keaktifan siswa.
c.       Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dokumentasi digunakan peneliti untuk mendapatkan data tentang daftar nama siswa, jumlah siswa, nilai PAI sebelumnya, dan foto-foto pendukung lainnya.




7.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan tindak lanjut kegiatan peneliti sesudah data terkumpul untuk segera digarap oleh staf peneliti untuk mengolah data.[20]
Data dari hasil pengamatan diolah dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan keadaan peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus dan untuk menggambarkan keberhasilan metode small group discussion yang dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan indikator keaktifan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam.

8.      Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila tujuan dari penelitian ini tercapai, yaitu upaya untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI aspek Aqidah Akhlak materi Iman kepada Malaikat Allah dengan menggunakan metode Small Group Discussion pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Tahun Ajaran 2012/2013.

I.       Sistematika Pembahasan
BAB I: PENDAHULUAN
Dalam bab ini menjelaskan gambaran umum dalam penulisan skripsi, yang berisi tentang: latar  belakang  masalah,  rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.

BAB II: LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
Dalam bab ini akan menjelaskan tentang kerangka teoritik serta landasan dalam penelitian ini yang secara singkat akan membahas tentang upaya meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI materi pokok Iman Kepada Malaikat melalui metod small group discussion pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap Tahun Ajaran 2012/2013.
Hipotesis yang peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah metode small group discussion dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran PAI materi pokok Iman kepada malaikat pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang Semester Genap tahun ajaran 2012/2013.

BAB III: METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan menyajikan  tentang metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini meliputi: tujuan penelitian, Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian , kolaborator, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.

BAB IV: HASIL PENELITIAN
Pembahasan hasil penelitian. Memaparkan diskripsi lokasi penelitian yang meliputi sejarah SMA Negeri 1 Semarang, visi dan misi sekolah, tujuan sekolah. Paparan data sebelum tindakan (observasi, pre tes, hasil pre tes), siklus I (rencana tindakan siklus I, pelaksanaan tindakan siklus I, observasi siklus I, dan refleksi siklus I), siklus II (rencana tindakan siklus II, pelaksanaan tindakan siklus II, observasi siklus II, dan refleksi siklus II), pembahasan.

BAB V: PENUTUP
Pada bab terakhir ini akan menyajikan tentang kesimpulan dari  Penelitian atau merupakan jawaban singkat dari permasalahan, Saran  dan  Penutup.





DAFTAR PUSTAKA
L. Silberman, Melvi . Active Learning. 101 Cara Siswa Belajar Aktif. Bandung: Nusa Media. 2004
Khairudin, et. al., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Nuansa Aksara. 2007
Ardhanalz’s Weblog, Indikator Keaktifan Siswa yang Dapat Dijadikan Penilaian dalam PTK, http//:ardhanalz.wordpress.com/20012009/html
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. 2007
http://Tebar Silaturrohim. Beriman-kepada-malaikat/htm, Moch. Hasanudin, N. Kasirah 16/12/2012
Ismail, SM. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang: Rasail. 2011
Arikunto, Suharsimi.  Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 2002
Asrori, Mohammad  Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Wacana Prima. 2008
Wiratmaja, Rachiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005
Sudijono,Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2008
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2002
Yulis, Rama. Metodologi PAI. Jakarta: Kalam Mulia. 2005
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2002
Departemen Agama RI. Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Sekolah Luar Biasa. Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam. Direktorat Madrasah Dan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum. 2003
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Pelita. 1985
Mulyasa, E. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya karya offset. 2003.



[1] E. Mulyasa,  Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Rosdakarya Offset, 2003), hlm. 100.
[2] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Pelita, 1985). Hlm. 421
[3] Melvi L. Silberman, Active Learning, 101 Cara Siswa Belajar Aktif, (Bandung: Nusa Media, 2004), terj.Raisul Muttaqiem, hlm. 9.
[4] Khairudin, et. al., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Yogyakarta: Nuansa Aksara, 2007), hlm.208.
[5] Ardhanalz’s Weblog, Indikator Keaktifan Siswa yang Dapat Dijadikan Penilaian dalam PTK, http//:ardhanalz.wordpress.com/20012009/html
[6] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), Cet. 6, hlm. 90-91
[7] Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, (Jakarta: Gaung Persada, 2007), hlm. 84
[8] Rama Yulis, Metodologi PAI, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hlm. 21
[9] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), Cet. II, hlm. 77.
[10] Departemen Agama RI, Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan
Sekolah Luar Biasa, (Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Madrasah Dan
Pendiikan Agama Islam Pada Sekolah Umum, 2003), hlm. 2
[11] http://Tebar Silaturrohim. Beriman-kepada-malaikat/htm, Moch. Hasanudin, N. Kasirah 16/12/2012
[12] Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail, 2011), hlm. 87-88
[13] Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail, 2011), hlm. 88
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 64
[15] Mohammad Asrori, Penelitian Tindakan Kelas,( Bandung : Wacana Prima, 2008 ), hlm. 9
[16] Suharsimi Arikunto, Dkk. Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumu Aksara, 2006), hlm. 3
[17] Rachiati Wiratmaja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 66
[18] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 82
[19] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 76
[20] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet. 12. hlm. 209.